Sekolah Itu Candu

Demikian judul buku yang baru saja selesai kubaca. Kubeli di salah satu toko buku local di Jogya, Social Agency, buku ini mengoyak intelektualitasku akan stigma sekolah. Kumpulan 11 tulisan pendek ini menyadarkanku bahwa memang sebenarnya sekolah, sesuai dari asal katanya yaitu skhole, scola, scolae, schola yang secara harfiah memiliki makna “waktu luang”, hanyalah sebuah kegiatan di waktu luang. Kenapa demikian? Ya karena manusia bersekolah demi mendapatkan secarik kertas berjudul sertifikat. Untuk sebagian orang, sekolah merepresentasikan status dan media untuk masuk kedalam strata sosial tertentu. Berapa banyak orang tua yang atas nama pendidikan berkualitas berbondong-bondong memasukkan anaknya ke ‘sekolah plus’, international school, boarding school di luar kota, bahkan hingga ke luar negeri. Tak kurang berbagai aktivitas extra kulikuler menjadi jadwal padat sehari-hari seorang siswa.

Slogan ‘Ayo Sekolah!’ yang dicanangkan UNICEF kabarnya telah menyedot sekitar 20% APBN agar semua anak Indonesia memperoleh pendidikan dasar di bangku sekolah. Paling tidak seorang anak wajib sekolah selama 12 tahun, dilanjutkan dengan 4-5 tahun di bangku universitas (bila ada biaya). Belum lagi sekolah S2 yang belakangan latah ditempuh oleh sebagian urban society. Buat apa? Peningkatan karir, dalih mereka. Ironisnya, berapa banyak lulusan sekolah yang tidak mendapatkan pekerjaan, sedangkan mereka di tempat terpencil yang tidak pernah bersekolah mampu menciptakan lapangan kerja yang paling tidak dapat menghidupi keluarga mereka.

Sejak di SD dulu pun orang tuaku mewajibkan aku sekolah mulai dari jam 7 pagi disambung dgn sekolah madrasah di siang hari. Akibatnya, aku sering bosan pergi sekolah. Aku lebih suka belajar menari, mengetes kemampuan menari di depan umum maupun latihan karate di rumah temanku, atau pergi naik gunung dengan teman2. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban sering kali kuabaikan. Bahkan beberapa kali orang tua ku dipanggil ke sekolah hanya karena aku sering mengajak teman2 sekolah untuk ‘pindah belajar’ di TIM, melihat orang latihan drama.
Hal ini yang akhirnya membuatku tidak mau lama2 duduk di bangku universitas. Jujur, aku sendiri merasa school of life, pengetahuan yang didapat dari interaksi sehari-hari dengan lingkungan sekitar melebihi dari apa yang kudapat di sekolah. Bahkan, waktu yang kuhabiskan di ruang2 kelas (yang kuanggap membatasi kreativitas berpikir) hanya ¼ dari waktu yang kupakai untuk nongkrong di library, berinteraksi dengan orang lain atau di lab computer. Ketika keinginan untuk mengisi waktu dari sepersekian waktu luangku muncul, dan ketika aku merasa ingin mendapat pengalaman lain, kuputuskan untuk kuliah lagi.. di luar negeri. Sebetulnya alasan utamanya adalah untuk ke luar negeri. Semua orang tahu, visa tinggal akan lebih mudah didapat untuk study dibanding untuk keperluan lain. Tapi berapa banyak dari kita mau mengakui hal ini. Padahal, di luar negeri pun tidak jarang para pelajar lebih banyak menjadi part-time worker, jalan2 kenegara2 sekitar, melihat pertunjukan bola, atraksi seni, diskusi dengan sesama penghuni dormitory/apartment yang kebetulan bukan merupakan teman sekolah. Ujung2nya, segala aktivitas ini menjadi lebih utama dan menyita waktu. Jadi betul kan, sekolah itu hanya mengisi waktu luang?
Herannya, kenapa orang2 yang berkumpul di Tierpark mendengarkan orasi, hadir di mesjid2 mendengarkan ceramah agama, mereka yang rajin mengunjungi museum, tidak dikatakan sekolah? Bagaimana dengan seorang anak yang belajar berjoget dari musik yang diperdengarkan di CD, belajar memegang sapu ketika melihat pembantu menyapu di halaman? Bukankan mereka juga belajar?
Pertanyaannya bukan masih perlukah kita sekolah, melainkan perlukah lembaga yang disebut sekolah? Sementara dewasa ini kebanyakan lembaga pendidikan merupakan bentukan kapitalis yang sekedar mencari profit dengan mengatasnamakan pendidikan berkualitas, sementara para pengurusnya tidak punya kemampuan transfer knowledge. Itu banyak dijumpai di Indonesia kan **grin**


Advertisements

~ by rhyme de ma vie on April 13, 2006.

One Response to “Sekolah Itu Candu”

  1. […] Itu Candu. http://cendil.wordpress.com/, 13 April […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: