Banjir lagi euy…

Belum lagi kering airmata bumi pertiwi ini mengenang rentetan musibah bencana alam maupun kelalaian manusia yang terjadi sepanjang tahun2 terakhir, lagi-lagi musibah banjir yang memporak-porandakan 26 dari 43 wilayah di Jakarta dan 11 wilayah Jawa Barat ini telah melumpuhkan aktivitas perekonomian di Jakarta dan sekitarnya. Produksi dan transportasi merupakan 2 sektor yang paling merasakan dampaknya. Padamnya aliran listrik yang otomatis menghentikan operasional produksi serta terhambatnya mobilitas distribusi barang dan jasa. Akibat yang ditimbulkan bukan saja dirasakan oleh jakarta, tapi juga daerah lain. Bisa dibayangkan berapa besar potensial kerugian yang diakibatkan oleh mandegnya kegiatan ekonomi yang hampir selama 3 hari meluluh lantakkan jantung bisnis ibukota.

Hitung-hitungan kerugian akibat banjir ini pun tidak hanya melibatkan materi tapi juga immaterial. Dari sisi materi bisa kita hitung pos biaya tak terduga untuk biaya renovasi rumah, penggantian barang2 dan kendaraan yang rusak, dll. Sementara di sisi immaterial, trauma atas kejadian tersebut atau bahkan sampai kehilangan anggota keluarga. Masih lebih besar lagi kerugian jika ditinjau efek domino dari banjir ini, mulai dari tingginya harga bahan makanan hingga naiknya o

Sebetulnya, banjir 5 tahunan ini sudah diantisipasi sejak banjir besar tahun 2002 lalu. Tapi tetap saja, ketika bencana itu datang, masyarakat kita tidak siap dengan kejadian itu. Terlebih, kita tidak mampu memprediksi wilayah mana saja yang akan terhadang banjir itu. Nyata-nyata, wilayah elit sekelas Kemang dan Kelapa Gading yang dulu tidak pernah terjamah banjir pun, kali ini tidak luput, bahkan dengan ketinggian mencapai 1 – 1,5 meter. Terlebih bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai (DAS), nyaris tidak ada yang tersisa dari terjangan air bah.

Kemudian timbul pertanyaan pada benak saya yang awam, kalau sudah begini, tindakan apa yang bisa kita lakukan agar 5 tahun y.a.d, daerah saya tidak kebanjiran (lagi)
Sudah selayaknya fenomena banjir 5 tahunan seperti yang sudah diprediksi pemerintah itu menjadi prioritas penanganan yang tidak sekedarnya saja. Usaha apapun, untuk meminimalisasi dampak harus mendapat perhatian serius dari berbagai elemen. Paling tidak dengan komitmen dan konsistensi pemerintah untuk menyelesaikan proyek kanal timur dan kanal barat yang, karena alasan tingginya anggaran, dulu terbengkalai.
Dari masyarakat sendiri diperlukan tingkat kesadaran untuk menjaga lingkungan sekitarnya, paling tidak dari sampah maupun tidak sembarangan mendirikan bangunan di wilayah yang bukan peruntukan pemukiman.

Sisi lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah dengan meninjau ulang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Jakarta yang sudah kelebihan penduduk dan bangunan. Buat saya, rasanya aneh melihat pembangunan gedung-gedung baru yang bermunculan di sepanjang jalan Satrio, Kuningan. Apakah pertumbuhan bisnis sudah sedemikian pesatnya sehingga pemda merasa perlu memberikan IMB buat gedung2 tersebut. Kalau kita tengoktingkat occupancy di segitiga emas, paling berkisar antara 60-80%. Bahkan, gedung Landmark, yang dulu merupakan salah satu icon bisnis pun sebagian unitnya bisa disewa sebagai apartment. Atau bisa jadi, ini hanya akal-akalan pejabat pemerintah yang berpikir ‘mumpung masih berkuasa’, maka pembangunan dikebut sedemikian rupa. Yang perlu dipertanyakan oleh masyarakat adalah, apakah pembangunan tersebut sudah sesuai dengan segala ketentuan yang diwajibkan, misalnya dari segi lingkungan –apakah Amdal terpadu sudah disusun? Mengingat kawasan tersebut (sepanjang Satrio hingga ke ujung Jalan Casablanca dekat TPU Menteng Pulo) merupakan bagian dari konsep mega city walk yang dicetuskan Ciputra group sebelum kri

sis keuangan melanda kita.

Sayangnya lagi, peniadaan dokumen Amdal tidak memiliki konsekuensi hukum sehingga kita sulit menentukan pelaku kejahatan lingkungan di wilayah kita. Ujung-ujungnya, kita hanya saling menyalahkan satu sama lain. Dan yang menang, sudah tentu penguasa yang nota bene selaku pemilik bisnis.

Sungguh sangat saya herankan, kenapa sih bangsa ini selalu menjadi bangsa yang terbelakang dalam hal belajar? Padahal, kemampuan individu citizen negeri ini cukup berpotensi baik dalam hal umum maupun akademik. Apa mungkin karena kita terlalu lama dinina bobokan oleh rezim latent ‘orde baru’ ya…

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on February 7, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: