Main Mata Pejabat Berakibat Kaya

Bincang-bincang menarik terjadi kemarin ketika aku membantu menyiapkan dokumen tender salah satu team pengadaan pemerintah pusat dengan single source selection. Karena tender model begini sudah sangat spesific dengan direct contracting method, akhirnya kami jadi ngalor-ngidul ngrumpi soal penyelewengan sebesar Rp. 14.8 milyar lebih (Rp. 17 milyar tepatnya, karena vaksin yang dibeli ternyata cuma jadi waste yang tak bisa dipakai) yang terjadi dalam pengadaan vaksin flu burung beberapa waktu lalu

Ada hal menarik yang sempat membuatku tercenung dan menerawang jauh mendengar bagaimana para penata pemerintahan yang main mata dengan penyedia barang/jasa peserta tender telah banyak berkontribusi pada kebobrokan system tata pemerintahan di Indonesia sehingga berakibat fatal pada kebangkrutan negeri tercinta ini. Belum lagi bicara pada level degradasi moral individu yang berkecimpung didalamnya…dapat dipastikan, keadaan ini lazim terjadi di kebanyakan pengadaan barang publik di instansi pemerintah pada umumnya, cuma ya mungkin dilaksanakan dengan cara yang berbeda pula.

Buat seorang praktisi pengadaan, penentuan scope of work serta jelas, tidak merujuk preferensi brand tertentu, open competition, transparansi  merupakan  syarat dasar mutlak yang harus dipatuhi ketika membuat dokumen tender. Terlebih untuk pengadaan yang model tendernya menggunakan metode 2 sampul. Jelas bilamana technical proposal dari supplier tidak memenuhi syarat, maka peserta tender langsung gugur dan sampul harga tidak boleh dibuka.  Dalam kaitan untuk tender yang sangat spesifik seperti pengadaan vaksin misalnya, model tender seperti ini lazim dipakai. Pun karena di Indonesia ini cukup banyak perusahaan farmasi yang mampu menyediakan vaksin tertentu. Namun bila spesifikasi yang diminta secara kasat mata merujuk pada perusahaan X atau tercium adanya indikasi kolusi dan hubungan terlarang antara pejabat pembuat komitmen dengan salah satu peserta tender, tentunya akan mudah teridentifikasi karena vaksin bukan merupakan barang umum. Setiap perusahaan yang ikut tender tersebut akan butuh waktu yang cukup lama untuk mempersiapkannya agar sesuai dengan spesifikasi seperti yang tertera dalam RFP. Bodohnya, tenggat tender dalam hal pengadaan kasus diatas dibuat agak ketat…hmmm, tau sendiri selanjutnya kan..tidak ada vendor yang capable untuk provide vaksin itu, unless memang vaksin itu cuma diproduksi oleh perusahaan BF.

Hitung-hitung soal angkanya, kebocoran yang terjadi tidak sedikit lho, meski mark-up unit costnya cuma Rp. 20 misalnya. Bayangkan, jika kebutuhan pengadaan stok vaksin sebagai langkah antisipasi terjadinya pandemi suatu virus di Indonesia adalah sebanyak 20juta ampul (10% dari jumlah penduduk). Bisa dikalkulasikan berapa besar penyelewengan yang terjadi..itu baru dari satu jenis..Coba aja lihat misalnya turunan dari satu strain virus tertentu. Ada yang terkait dengan manusianya, binatang dan ekosistem lainnya dan notabene diperlukan vaksin pencegahan untuk masing2 makhluk dan ekosistem itu, then all we have to do is a simple math –add, multiply…voila…cukuplah buat beli apartment baru dan setoran ke partai buat maju di kancah pilkada berikutnya! 😀

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on September 12, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: