Ha Noi – City by the River

Setelah hampir setahun beli tiket di airasia, akhirnya tiba juga tanggal keberangkatan itu. Thanks to Airasia dengan tiket-tiket murahnya sehingga saya bisa sering-sering travel :). Perjalanan yang direncanakan sejak tahun lalu selama 6 hari pun terlaksana. Berangkat hari Selasa sore 19 May, tiba di Bangkok sudah mulai malam. Karena sekarang sedang gencarnya issue Swein flu, proses kedatangan di imigrasi jadi lebih panjang sedikit. Saya putuskan untuk quick dinner saja di foodcourt Suvarnabhumi. Kemudian saya langsung menuju ke penginapan dengan menggunakan airport shuttle seharga 150 baht. Lumayan murah dibanding kalau harus menggunakan taksi. Agak merepotkan jg kalau untuk sehari saja saya harus keliling dengan segenap bawaan berupa backpack, tripod dan camera bag. Akhirnya saya titipkan ransel di airport dgn jasa Chubb, dengan membayar 100 baht untuk 24 jam. Ke kawasan kota Bangkok, saya cuma nenteng kamera dan perlengkapan mandi+salin dan mukena.

Berbekal peta penginapan, dari kawasan Khao San, naik taksi langsung ke hostel Roof View. Memang lokasinya tidak persis di pinggir jalan besar, namun untuk kawasan Khao San yg ramai, hostel ini sangat tenang dan paling penting: bersih. Meski interior dan perabotnya macam kost-kost an, saya merasa nyaman karena paling penting kebersihan kamar mandinya.

Pagi hari, disediakan breakfast ala kadarnya di ruang makan yang tergabung dengan lobby. Rupanya hotel ini cukup dikenal oleh backpackers manca negara. Saat breakfast, hanya saya sendiri yang berkulit coklat dan bermata sipit 🙂

Check out dari hotel, saya menuju ke Khao San. Penerbangan dari Bangkok menuju Hanoi masih jam 5 sore, sehingga saya punya waktu banyak untuk jepret-jepret Khaosan dan Royal Palace sebelumnya mampir dulu di mediteranean Khaosan. Lumayan, porsi makanannya besar, cukup kenyang sampai malam.

Dari kawasan Democracy Station, saya menuju ke airport menggunakan shuttle bus kembali.

Penerbangan dari Bangkok ke Hanoi jam 5.45 selama 2 jam. Berbekal pengalaman yg lalu dimana kadang supir taksi suka seenaknya nentuin tarif, saya sudah minta penjemputan dari pihak hotel. Meski ongkos taksi sebesar USD 15 (normal rate  taksi di bandara, hanya sekitar USD 10). Untung pesawat tidak mengalami keterlambatan keberangkatan, sehingga saya masih bisa menikmati malam di Old Quarter.

HANOI (Hari pertama)

Perjalanan dari bandara No Bay menuju Old Quarter area menempuh waktu 45 menit. Unik juga kota ini..semrawutnya persis seperti kawasan Depok, Bintaro, dengan ojek2nya. Belum lagi orang yang tiba-tiba melintas mau nyebrang di toll, juga suara klakson dimana-mana. Rupanya orang sini seneng keramaian.. Tapi disini mobilnya setir kiri kaya di Eropa 🙂

Begitu tiba di Old Quarter, saya sempatkan ngopi dan makan di City View Cafe. Letaknya persis tengah persimpangan lima di pusat Old Quarter. Pemandangan langsung ke padatnya lalu lintas malam dan turis-turis yang lalu lalang di jalan bikin pusing jg. Sejam saya menikmati view Hanoi di waktu malam ditemani secangkir kopi panas dan snack. Dengan berjalan kaki dari City View, saya check in ke hotel Hanoi Prince yang terletak hanya 2 blok dari simpang Old Quarter.

Hotel di Hanoi jarang yang memakai lift dan tangga untuk naik pun dibuat sempit dengan kecuraman hingga 50-60 derajat untuk memaksimalkan space yang bisa dipakai. Lucky me, saya dapat di lantai 2 untuk rate USD 14 per malam. Kamarnya cukup nyaman dan bersih, dengan kamar mandi didalam dan dilengkapi TV dan fridge.

Setelah check-in, saya keluar hotel untuk lihat area sekitar hotel. Jalan-jalan sudah mulai sepi dan toko-toko sudah mulai tutup, tapi masih banyak juga turis-turis yang menelusuri café-café yang masih buka atau sekedar cari angin dekat danau.

Hotel-hotel di kawasan Old Quarter umumnya menyediakan fasilitas penggunaan internet secara gratis bagi para tamunya. Hal ini memudahkan saya juga untuk mencari tahu tempat-tempat yang harus saya datangi selama di Hanoi ini.

Malam itu saya sempatkan juga contact travel agent yang sudah saya book sebelumnya via internet untuk keberangkatan ke Halong Bay esok paginya.

HANOI (Hari kedua)

Pagi-pagi saya check out dari hotel dan menitipkan luggage. Rencananya nanti malam saya pindah hotel. Ini memang kebiasaan saya kalau sedang backpacking, mencoba-coba hotel-hotel melati untuk membuktikan dan mereview apakan service yang mereka tawarkan sesuai dengan iklan mereka dan testimony tamu-tamunya 🙂

Jam 8.00 saya stand-by didepan hotel menunggu jemputan untuk ke Halong Bay. Ada beberapa tamu-tamu bule yang juga nunggu dijemput. Kebanyakan mereka booking on the spot, melalui berbagai travel agent kecil yang bertebaran di kawasan Old Quarter. Sebetulnya hotel juga sekaligus menjadi agen perjalanan (broker) untuk tamu-tamu mereka. Pastikan ‘You get what you pay for’

karena banyak sekali travel agen kecil yang menawarkan jasa yang akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan.

Perjalanan ke Halong Bay ditempuh dalam 3.5 jam, termasuk mampir di restoran lokal sekitar 20 menit. Tiba di bay, perahu-perahu tradisional sudah nangkring di pier. Kapal yang saya tumpangi juga bagus dan bersih, sayang tour guidenya kurang komunikatif dan bahasa inggrisnya juga kurang bisa saya pahami, karena pakai dialek-dialek aneh.

Mengenai Halong Bay itu sendiri, cuma 1 kata: magnificent! God give us beauty of the nature, we shall manage carefully. Bukit-bukit batu yang tampak seperti lukisan berjajar disepanjang laut. Menurut guide nya, ada sekitar 1969 pulau kecil yang dari jauh menyerupai limestones.

Siang hari kami mampir di desa terapung (floating village) untuk melihat-lihat ikan yang mereka pelihara di jaring apung. Makan siang berupa ikan dan udang yang disediakan pun diambil dari situ, jadi masih sangat segar. Baru kali ini saya menikmati udang segar yang terasa manis saking segarnya. Menu siang yang disiapkan awak kapal sangat melimpah: lumpia, french fries, steam udang, sea-bass dengan bumbu yang lezat, fried tofu. Teman-teman semeja saya (kebetulan orang UK dan US) begitu terpesona melihat cara saya makan menggunakan chopstick dengan elegant, komentar mereka.

Setelah makan, kami berkano menuju tepian beberapa pulau. Saya dan teman memasuki lubang berupa gua yang menembus area terbuka, dikelilingi pulau-pulau berdempet dan membentuk danau ditengahnya. Very tranquil and peaceful, dimana burung-burung beterbangan diatasnya..seperti berada di danau ditengah hutan..

Kami kembali ke dermaga pukul 16.00, lanjut kembali ke Hanoi. Tiba di Hanoi sekitar pukul 8 malam, saya keliling seputar Old Quarter untuk mencari souvenir buat beberapa teman. Toko yang menjual poster-poster propaganda komunis juga jadi incaran saya. Toko ini punya koleksi ratusan poster berkualitas, dijual dari harga USD 8 – USD 200. Bukan apa-apa, saya memang mengoleksi beberapa poster unik oleh-oleh keliling manca Negara J kemudian saya ‘terjebak’ di toko souvenir yang menjual poci kopi Vietnam. Meski berat karena terbuat dari keramik, demi teman, saya beli 7 poci plus beberapa tas tradisional dan printilan kecil lainnya. Kemudian mampir ke Bobby Chinn untuk snacking malam dan minum kopi.

Malam harinya saya pindah ke Hanoi Boutique Hotel. Rate untuk kamar ini USD 20 per malam. Sayangnya, kondisi kamar di hotel ini penuh dan hanya menyisakan 1 kamar untuk saya yang letaknya di lantai 6 (paling atas). Rasanya mau nangis, ketika tersadar bahwa di hotel tidak ada lift..untungnya awak hotel disana baik2..mereka membantu ngangkat backpack saya dan menjanjikan untuk dipindah kelantai bawah besoknya. Rasa cape pun terbayar karena kamar hotel ini benar-benar bersih dan cantik sebagaimana iklannya di website. Puwas deh!

HANOI (hari ketiga)

Rencana saya adalah keliling tourist attraction. Jam 8 pagi breakfast disediakan hotel ala kadarnya. Supaya bisa mudah memotret, saya pilih cyclo (becak) yang mengantar saya keliling kota. Perjam nya tukang cyclo itu mematok 40,000donc. Mahal sih..tapi gapapa lah, tokh kasian juga dia harus mengayuh dengan beban 60 kg plus lensa-lensa kamera dan tripod 😉

Dimulai dari Lenin Statue, Ho Chi Minh Maoloseum, Mao residence, Temple of Literature sambil mampir di gallery sekitarnya dan Hanoi Hilton (prison), kemudian istirahat untuk makan di Cha Ca La Vong. Cyclo lanjut ke Opera House, French Quarter dan Notre Dame versi St. Joseph Cathedral dan kembali ke kawasan Old Quarter untuk beli tiket Water Puppet nanti malam. Selesai semua itu sekitar jam 3.30 dilanjutkan dengan strolling Hoan Kim Lake, mampir di Jembatan Merah, baca buku sambil menanti matahari sore.

Dari situ saya kembali ke hotel jalan kaki dan ternyata kamar saya memang sudah dipindah ke lantai 2 yang tidak kalah bagus dari kamar sebelumnya. Malamnya saya nonton pertunjukan Water Puppet yang sangat populer dan menang berbagai kejuaraan. Memang unik show ini, tapi menurut saya, wayang orang Bharata masih lebih bagus lah.. Malam terakhir di Hanoi ditutup dengan menikmati suasana di Green Tangerine, dimana kesan pedesaan perancis sangat terasa kental disini.

Tips:

  • Untuk tour ke Halong Bay, ada banyak travel agent yang melayaninya. Yang terbesar adalah Vietnam Open Tours, atau juga Sinh Café. Dimana harga yang mereka tawarkan juga tidak menipu.
  • Hotel-hotel kelas melati banyak sekali di kawasan Old Quarter, jadi jangan khawatir tidak dapat kamar J
  • Tarif taksi dari bandara ke Old Quarter rata-rata USD 10 –
  • USD 12. Kalau pakai jasa pick-up dari hotel dikenakan USD 15. Bahkan kalau menginap lebih dari 3 malam, biasanya mereka membebaskan dari biaya pick-up
  • Kawasan tourist di Hanoi bisa disusuri dalam waktu 1-2 hari. Bisa dengan ikut daily tour, tapi lebih enak sewa motor (USD 4/hari) atau sewa mobil.
  • Tour ke Halong Bay rata-rata USD 29-30 termasuk makan siang di kapal dan kayak (45 menit). Kalau mau ambil paket 2hari/1 malam, harganya berkisar USD 75-200, tergantung paket.
  • Untuk kuliner, sempatkan kunjungi restoran yang terkenal disana: Cha Ca La Vong, Little Hanoi, Green Tangerine dan menyicip kopi disore hari di Highland’s Coffee yang terletak persis disimpang Old Wuarter, sambil memandangi keindahan Hoan Kim Lake. Kalau sempat, coba juga ke Bobby Chinn di arah barat danau
  • Kalau tidak punya currency Donc, tidak perlu ditukar di Indonesia. Lebih baik bawa USD, karena conversion rate yang diberikan disana lebih bagus. USD 1 = 18,000donc.
  • Expense untuk makan: semangkuk Pho Bo di restoran pinggir jalan harganya 20,000donc. secangkir kopi Vietnam sekitar 10,000-12,000donc. Kalau untuk makan sehari yang versi restoran seperti Green Tangerine/Little Hanoi, paling tidak perlu sekitar USD 15-20 per hari (light breakfast, lunch, light dinner dan kopi)

Kalau mau lihat snapshots selama di Hanoi, monggo diklik disini: Photo Hanoi

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on May 29, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: