Sevilla – nonton flamenco dan Toros

Akhirnya penantian belasan tahun itu tiba. Cordoba, nama yang sering teringat sejak gue kelas 5 SD, menjadi tujuan perjalanan Tour de Andalucia. Biasanya gue nggak pernah prepare lama untuk setiap trip yang gue jalani. Tapi kali ini, untuk urusan packing sudah gue lakukan seminggu sebelum berangkat. Dari oom google, gue pelajari gimana iklim disana, dimana awal musim gugur, suhunya nggak pernah dibawah 26 derajat celcius. Sementara gue juga akan lanjut ke Jerman dimana ketika musim gugur udara sudah mulai dingin akibat anomali cuaca. Maka, mau nggak mau gue harus menyiapkan jaket yang cukup tebal. Akibatnya berangkat pun ransel gue sudah full, belum lagi titipan kue lebaran buat temen yang makan space 1 tas sendiri, plus tripod dan lensa2..kaya’ orang mau umrah deh..

Dengan dilepas alunan lagu lebaran, Boeing 777-300 terbang membawa gw  ke Duesseldorf menembus kegelapan malam. Tiba di Duesseldorf sudah jam 23 lewat. Karena pesawat lanjutan ke Sevilla adalah jam 6.15 pagi, terpaksa gue bermalam di bandara yang dingin..pengalaman juga sih, kayak waktu kuliah dulu..

SEVILLA (24-26 September)

Akhirnya tepat jam 09.00am tanggal 24 September, pesawat mendarat di bandara San Pablo, Sevilla. Celingak-celinguk berbekal Rough Guide Andalucia dan print out reservasi apartment ditambah bahasa Spanish gue yang baru kelar buku dasar 1, gue naik airport bus ( 2.5) sampai Prado de San Sebastian, disambung taksi  6.5 sampai depan  apartment, ternyata jalannya lumayan, karena gue nyasar! Padahal lokasinya masih daerah Santa Cruz. Ditemui mbak-mbak manis mirip Penelope Cruz, gue segera check in apartment (  45/malam) dan tidur! *bayangin, 19 jam di pesawat plus stranded di bandara kecil, Membuat balung tuwo ini menagih istirahat*

Jam 14.30 gw bangun, masak indomie bekal dari jakarta, trus keluar keliling kota dan sekitaran Santa Cruz, kota tua nya sevilla. Bawa air minum sendiri plus bekal plum (  1.8/kg) beli di jalan, gue menelusuri City Center dan Macarena, berakhir di outdoor coffee shop dekat La Giralda, sambil nyoba tapas seafood. Total seporsi tapas plus mocca latte  7. Satu hal penting yang jadi  perhatian gue: sepanjang jalan, yang namanya orang cakep dan ganteng nggak ada habisnya. Mulai dari tukang delman, penjual buah, waiter, supir taksi, dll cakep2. Gw jadi inget, sahabat gue dari Jakarta udah wanti2 bilang: jangan keblinger ya liat yang macho dan ganteng..*u are so right Ats!* gue serasa cuci mata dalam arti ‘nikmat’ disini hehe..

La Giralda, minaret tertinggi di Spain peninggalan bangsa Moors yang tidak dirusak ketika itu, sekarang menjadi bagian Catedral Sevilla. Menjelang jam 20, dengan lemas gue kembali ke apartment karena pesawat yang ditumpangi temen gue mendarat jam 21.20. Untungnya, supplies makanan dia banyak! termasuk dendeng balado sisa lebaran. Mungkin karena dimakannya di Spain ya, koq dendeng yang cuma dibumbui cabe, bawang merah, bawang putih dan garam terasa lezzaatbanget..thanks God, malam itu kami save dinner budget karena dendeng dan kue lupis 🙂

Paginya, kami keluar jam 9, keliling Sevilla lagi, meng-explore Santa Cruz dengan Catedral dan Murillo Jardine . Kota ini memang cantik dengan bangunan2 tua dan penghuni bagaikan dewa –dewi  kayangan.. Kalau nggak mau cape’, bisa keliling obyek2 yang ada di seputaran Santa Cruz dan city Center dengan naik delman tradisional ditemani sais ganteng macam foto disamping seharga sekitar  25-30.

Pulangnya mampir ke Plaza de Toros. Beruntung banget kami masih kebagian tiket untuk pertunjukan toros hari sabtu, karena kami nggak nyangka masih ada season Toros bulan segini. Meskipun akhirnya jadwal ke Cordoba terpaksa dimundurkan ke malam hari. Untungnya, kita hassle free traveler, jadi terbuka untuk berbagai option yang asik-asik.

Life in Sevilla starts after 10.00pm. So, jangan  tidur cepat kalau mau liat kehidupan malam kota ini. Setelah istirahat sebentar di apartment, malamnya kami keluar lagi jam untuk nonton flamenco jam 22.30. Sebetulnya ada banyak restoran yang menyuguhkan tarian khas spain ini (asalnya dari Andalucia) yang dikemas dalam paket dinner tapas dan sangria yang dijual seharga  30. Dari brosur di apartment, kami menemukan tempat ‘Casa de la Memoria’ dikawasan Barrio Santa Cruz dengan tiket masuk seharga  12, tanpa makan. Sayangnya, selama show flamenco berlangsung, penonton nggak boleh motret, pemotretan tarian hanya diijinkan 5 menit terakhir, ketika show hampir usai. Dinner malam itu pun dihemat dengan menghabiskan dendeng di apartment..

Hari terakhir di Sevilla, kami habiskan keliling area Triana, dimana tinggal masyarakat local, kemudian ke stadion Ramon Sanchez. Kemudian check out apartment dan naruh luggage di left baggage stasiun Santa Justa ( 3.5). Siangnya keliling lagi sambil cari lunch di daerah Arenal, karena jam 17 kami sudah harus ke stadion toros untuk menyaksikan sang matador2 beraksi. La corrida de toros yang berlangsung hari itu merupakan bagian dari perayaan San Miguel, puncaknya tanggal 27 September. Beruntung kami berkesempatan menyaksikan show yang biasanya ada di bulan April-awal Juni. Itupun masih banyak yang gak kebagian tiket, terutama turis yang tidak tau ada jadwal toros hari itu. Show berlangsung 2 jam (18.00-20.00) dengan 6 banteng roboh terhunus pedang 3 orang matador muda.

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on October 18, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: