Wisata Sumatra Barat

Sumatra Barat telah sejak lama dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi wisata beragam, mulai dari pantai, bangunan bersejarah dan kebudayaan lainnya. Tiap kabupaten memiliki karakteristik wisata yang membuat mata segar. Pesisir selatan dengan pantai-pantai cantik berpasir putih dan tentunya dengan sunset kemilau keemasan. Limapuluh kota dengan pegunungan, sawah menguning serta cuaca yang sejuk. Tanah datar dengan istana Pagaruyung, Silindung Bulan serta artefak sisa2 kejayaan masa lampau, Sawahlunto dengan bangunan peninggalan belanda dan kota yang bersih dan tenang.

Buat saya pribadi, pesona alam Sumatra Barat seakan tidak ada habisnya menawarkan keindahan yang menyegarkan mata, menenangkan pikiran. Sejak saya bertugas di Padang November silam, hampir setiap minggu saya habiskan waktu luang saya untuk keliling wilayah Sum-bar bersama teman-teman kantor.

Namun sayang, banyak tempat-tempat wisata tersebut tidak dikelola secara apik agar pemerintah propinsi dapat meningkatkan kunjungan turis domestik maupun mancanegara. Wisatawan domestik pada umumnya hanya mengenal wilayah Bukittingi dengan Ngarai Sianok, Jam gadang dan Goa Jepang, ataupun danau Singkarak dan danau Maninjau. Padahal, masih banyak lagi obyek wisata yang bisa di explore dan mudah dijangkau dengan kendaraan roda empat.

Pada beberapa titik tujuan wisata, tidak tersedia sarana dan prasarana yang memadai sehingga potensi yang ada kurang ter-expose. Seperti misalnya pada obyek wisata Batu Batikam dan Makam Raja Alam di Tanah Datar. Kedua obyek ini merupakan bukti sejarah hubungan antara kerajaan Pagaruyung  dengan kerajaan Singosari.

Untuk kawasan pantai sendiri, ada beberapa pantai yang indah, seperti pantai Tiku di Pasaman atau pantai Carolin, semuanya cantik, berpasir putih. Memang sarana penginapan yang tersedia disini sangat minim fasilitas. Kebanyakan turis yang datang adalah surfer dan diver yang masuk melalui Kuala Lumpur.

Dalam hal wisata kuliner, beragam makanan khas dari tiap-tiap kabupaten juga saling bersaing. Sebut saja ayam panggang Pariaman, itik lado mudo dan pical sikai dari Bukittinggi atau gulai kepala kakap dari restoran family di pantai Bungus. Cuma haris diingat, semua makanan ini tinggi kolesterol. *gak heran dalam waktu 4 bulan disini, body weight saya naik 5 kg:D

Pernah terpikir untuk memuat paket wisata bertemakan eco-tourism untuk teman-teman saya di daratan Eropa. Sayang, waktunya belum memungkinkan. Tapi siapa tahu, suatu saat, maybe in 5 years time..

 

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on February 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: