Mari ber ho-oh lewat Onrop-grafi

 Tampilan billboard besar bertuliskan ONROP Musikal dengan sepasang pria-wanita muda berlatar belakang city view di bulan purnama dan sebatang pohon meranggas, tampil cukup mencolok di Jalan Pintu Satu Senayan. Yang menarik buat saya adalah, poster bergambar pasangan muda dengan background coklat mengingatkan saya akan poster Le Chat Noir ala MontMartre  yang replikanya sempat tergantung di dinding kamar saya. ONROP. Judul yang aneh..tapi setelah saya perhatikan (mengingat juga sang sutradara, Joko Anwar, adalah seorang seniman post modern nyeleneh), ternyata tulisan tersebut harus dibaca dari belakang, PORNO. Bingo! Saya harus nonton. Itu yang ada dalam pikiran saat itu, alasannya: Joko Anwar berbeda dari seniman lainnya, dibalik karya-karyanya yang mudah dicerna untuk orang awam seperti saya tersisip pesan moral yang dalam atau carut marutnya potret negeri tercinta ini. Karyanya selalu segar, terlebih setelah nonton filmnya Pintu Terlarang.

Minggu-minggu berjalan..saya lupa booking tiketnya. Dan ternyata, ketika saya baru mau beli di minggu terakhir Oktober, semua tanggal selain week-end sudah SOLD OUT. Hanya kelas gold yang tersisa. In short, akhirnya saya mendapatkan 2 tiket silver seharga Rp. 200 ribu/tiket untuk tanggal 16 November 2010.

Ini kali pertama lagi saya datang ke TIM sejak direnovasi. Teater Jakarta merupakan yang terbesar di kompleks TIM menempati bekas perpustakaan HB Jassin, baru dibuka bulan November ini. Suatu kebanggaan akhirnya Jakarta punya 1 lagi teater  sebagus Esplanade dengan kapasitas seat sekitar 1200. Saya berharap dengan hadirnya teater baru ini, nonton jazz sekelas Diana Krall ga perlu lagi jauh-jauh terbang ke Singapore..Pertunjukan semalam dihadiri wajah-wajah familiar bertebaran..mulai dari Dalton T, Mira Lesmana, Riri Reza, Erwin Gutawa, de el el. Kelihatan di kelas Gold dan Silver kursi terisi penuh.

Teater Jakarta

Pertunjukan musikal ini jelas disajikan dengan persiapan secara matang dan professionalisme tinggi, terlihat mulai dari tata panggung yang apik, totalitas masing-masing pemain dan para penari. Siap-siap aja tertawa dari awal hingga akhir cerita. Tokoh sentral operette ini adalah Bramanto (penulis bacaan religious), Sari (pacar Bram) Amir (a queer assistant of Amir). Short story nya bisa dibaca disini: http://onropmusikal.com/?page_id=233

Cerita dimulai dengan situasi Jakarta di tahun 2020 dengan segala polusi dan dinamikanya yang membuat  Indonesia harus diawasi oleh polisi moral dari beragam kekacauan yang disebabkan oleh penghuninya. Semua kata/kalimat mengandung unsur Onropgrafi diganti dengan ‘ho-oh’. Sekali saja kepeleset mengucap kata berbau Onrop, akan dibuang ke pulau terisolasi Onrop, tanpa kecuali. Termasuk Bram, yang telah menyitir sebait lagu Ebiet G Ade, kita mesti t***njang dan benar-benar bersih. Diluar dugaan, ternyata life in Onrop sangat berwarna, Surga pada pandangan pertama.

Banyak dialog dan adegan dalam drama ini menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta, seperti sindiran terhadap kasus SMI yang untuk sementara waktu harus ‘mengungsi’ pergi dari Indonesia, ataupun the controvelsial minister, yang sesumbar di twitter bahwa the American first lady memaksanya jabat tangan, padahal si tiffie sendiri yg nyosor dengan kedua tangannya ‘bersentuhan’ tangan dengan yg bukan muhrim.  

ONROP, sebuah drama musikal yang dikemas penuh dialog-dialog jenaka, kritik atas realita, satire atas issue-issue social yang sedang mengemuka serta kemuakan atas dagelan yang diobral politikus, atau jeritan orang terbuang, yang seperti dibilang para gelandangan disitu: Saat malam dianggap buat orang yang terbuang..jangan takut malam tiba, dia milik kita. Jadi birokrat Cuma mau kaya..keadilan memang buta. Operette ini juga bisa jadi sebuah retorik kasus AP-LM yang diekspos habis-habisan karena alasan moral dan etika, wajah klasik beragam kebusukan oknum pelindung keadilan dan keamanan yang penuh kemunafikan.

Pesan yang disampaikan melalui gerak dan lagu menyampaikan bahwa toleransi berada diatas horizon, dari semua kemajemukan paham religi yang ada dinegeri ini.

The whimsical theater ini menawarkan warna baru dalam seni teater Indonesia yang saya kenal sejak muda, mulai dari Teater Koma, Teater Utan Kayu ataupun Teater Populer. Sekali lagi, Salute untuk kesenian Indonesia, Kudos untuk Joko Anwar. See you at POLARIS in 2012 J

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on November 17, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: