Hujan dan Jakarta ku..

Seminggu ini hujannya ruarrr binasa! Bikin mood ikut gloomy, males juga kemana-mana, karena cuma akan buang waktu, buang bensin akibat terjebak macet dan banjir. Memang jadi tidak efektif sih..but somehow, saya masih bisa manage beberapa urusan remotely. Praise the technology! Mulai dari beli makan, bayar-bayar tagihan, respon email hingga trading saham is just on my fingertip, one click away 😀

cuma ya itu, boring juga seharian dirumah..ditemani virtual communication yang kadang lemot dan mute.

melihat sikon cuaca yang ekstrim saat ini, terbayang bagaimana di bulan Januari-Februari dimana bulan2 tersebut curah hujan mencapai peak nya. Bisa-bisa saya terjebak dirumah, ,karena jalanan didepan terendam banjor kiriman. Pengalaman buruk tahun 2007 lalu terbayang, saat harus mengungsi dalam gelap dan menerjang arus air setinggi dada. Duh, jangan lagi deh! Berangkat dari pengalaman tersebut, yang membuat saya sedikit trauma akan banjir, stok makanan dan minuman dirumah jadi berlimpah 🙂 just in case terjebak gak bisa keluar rumah.

Informasi yang bersliweran di social media makin mengarah pada besarnya kemungkinan Jakarta akan terkena siklus banjir 5tahunan. Meskipun tingginya respon Mas Jokowi dalam upayanya mengendalikan banjir, rasanya sulit dilakukan dalam waktu sekarang, mengingat hujan selalu turun dengan intensitas sedang hingga tinggi, setiap hari. Pihak yang paling bisa disalahkan ya, pimpinan Jakarta terdahulu.. Si bang Kumis dan Sutiyoso. Terlalu panjangnya birokrasi yg mereka terapkan, membentuk opini seakan mereka tidak punya upaya menyelesaikan isu banjir yang kerap mampir.

Dari bincang-bincang pada beberapa kesempatan dengan para penggiat lingkungan, carrying capacity kota ini sebetulnya hanya sanggup menopang 7 juta jiwa. Bisa dibayangkan, kota yang saat ini dihuni sekitar 10 juta (BPS 2010) dan penghuninya bertambah di siang hari, Jakarta menjadi semakin renta, meskipun secara facial, bersolek sedemikian menor dan glamour. Belum lagi jumlah bangunan tinggi yang setiap hari muncul seakan berlomba memperdayai calon pendatang dengan iming-iming perubahan nasib kearah yang lebih baik. bah! Sudah dipikirkan kah resiko yang membayangi, baik itu banjir, efek rumah kaca, polusi dan lainnya?

Namun saya, dan jutaan lain makhluk yang berebut menghisap O2 dikota ini seakan mengabaikan resiko-resiko alam tersebut..terlebih kota yang dengan segenap pesonanya ibarat seorang gadis manis nan cantik berbalut Prada dan ber make up MAC meskipun dibaliknya hanya sesosok tubuh keriput dan bopeng.. Seandainya saja saya sudah kaya raya dan tidak punya cicilan KPR, pastinya saya sudah tinggalkan kota ini.. tak terbayang penderitaan bermacet dijakan 2-3 tahun yad, banjir, kriminalitas, polusi CO2 yang mengintai.. Apalagi harus bersaing dengan para pencari rejeki yang kebanyakan bermental baja, hantam kromo..duh, engga deh! Hehe..

Advertisements

~ by rhyme de ma vie on November 23, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: